0


Pernah melihat handban atau akun twitter @savesoedirman? Itu baru sebagian kecil dari berbagai bentuk perjuangan meringankan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Aliansi BEM se-Unsoed dan mahasiswa yang peduli dengan kasus UKT, berkumpul membentuk gerakan Save Soedirman. Ibarat bom waktu yang siap meledak, Save Soedirman kini hampir mencapai titik ledaknya.

Dimulai sejak Juni 2012, Save Soedirman menjadi wadah mahasiswa UNSOED bergulat memperjuangkan penurunan nominal UKT. Pergerakan ini dengan cepat nyaring terdengar gaungnya di seluruh fakultas.

Berbagai agenda Save Soedirman telah digelar. Bentuknya bervariasi mulai dari posko pengaduan, pembentukan tim riset, forum reboan, hingga aksi dalam format kreatif seperti gigs dan flashmob.

Reboan atau forum diskusi tiap Rabu malam ini telah dilaksanakan bergilir sebanyak sembilan kali di fakultas yang berbeda. Forum reboan ini menjadi wadah pemaparan data dan hasil dari tim riset Save Soedirman menyangkut aspek yuridis dan kuisioner UKT.

Hasil akhir riset direncanakan sekitar Desember mendatang. Hingga saat ini, pencapaian sementara dari tim riset  belum dapat diinformasikan. “Sementara ini kita belum tahu hasil riset, tunggu sampai Desember saja agar lebih valid,” tutur Pendi, Menteri Advokasi BEM FISIP yang turut aktif mengikuti agenda Save Soedirman.

Meski telah sembilan kali berjalan, namun belum banyak mahasiswa 2012 yang mengikuti, seperti Arifa Dewi, Agrotek’12. “Tahu kok ada reboan, tapi belum pernah ikut,” ungkapnya (13/11). Meskipun begitu Arifa menyadari nasib mahasiswa 2012 memang sedang diperjuangkan oleh gerakan tersebut.

Aksi kreatif pun tidak kekurangan massa. Seperti flashmob, tarian massal yang digelar 11 November 2012 lalu. Flashmob yang diadakan di alun-alun Purwokerto ini melantaikan 100an mahasiswa. Bukan tanpa tujuan, kegiatan ini dijelaskan Pendi, yaitu sebagai kampanye anti komersialisasi pendidikan kepada masyarakat.

Gigs atau konser Save Soedirman pun demikian. Konser ini menjadi manuver menarik massa dan mengedukasi mahasiswa lewat musik. Beberapa fakultas telah menjadi tuan rumah. Diantaranya Fakultas Peternakan (Fapet), Fakultas Pertanian (Faperta) dan paling awal di Fakultas Ilmu Kesehatan dan Kedokteran tepatnya Jurusan Farmasi.

Namun, tidak seluruh mahasiswa memandang positif aksi ini. Contohnya, konser di Fapet mendapat tanggapan kontra dari UKM Salam. UKM tersebut menilai aksi-aksi gerakan Save Soedirman tidak bermanfaat. “Konser itu ga bermanfaat. Hubungannya dengan UKT itu ga ada,” tegas Andri Ketua Umum Salam (21/11).

Andri menambahkan bahwa seharusnya Save Soedirman lebih baik dilakukan dengan komunikasi antara birokrasi dengan mahasiswa. Bukan dengan konser-konser yang selama ini diadakan. “Solusinya bisa dengan silahturahmi birokrat dengan mahasiswa. Selain itu posko pengaduan,” papar Andri (21/11). Ketika ditanya mengenai agenda-agenda Save Soedirman, Andri mengaku tidak sepenuhnya tahu.  “Saya cuma tau agendanya berupa konser-konser itu saja. Selebihnya ga mengerti,” ungkapnya.

Kontra pun muncul dalam bentuk akun twitter. Seperti belakangan bermunculan akun twitter dengan user name @saveunsoed dan @savejenderal. Menyikapi adanya hal tersebut, Pendi bersikap biasa saja. “Kita ngga tahu, dan ngga mau tahu. Mending ngurusin maba yang banyaknya 5000 lebih,” ungkapnya.

Menurutnya sah-sah saja bila ada pro ataupun kontra terhadap suatu gerakan. Namun yang disayangkan, save unsoed maupun save jendral hanya mengkritisi tanpa memberi solusi. “Mahasiswa itu bukan hanya mengkritisi, seharusnya memberikan solusi juga,” tegas Pendi. Menurutnya, bukan cara seperti itu yang seharusnya dilakukan mahasiswa.

Berbeda halnya dengan Andri, Arifa mendukung konser yang telah diadakan.  “Jangan dilihat dari konsernya, tapi dilihat dari perjuangan mereka. Tujuannya  untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa ke birokrat”, ujar Arifa (13/11) saat ditemui Agrica.

Menanggapi hal ini, Pendi menjelaskan, ada rencana audiensi kembali dengan rektorat setelah Juni 2012 lalu mengadakan audiensi pertama. Audiensi ini nantinya akan menyampaikan tuntutan-tuntutan yang dibuat oleh tim eksekutor Save Soedirman. “Pakai cara halus dulu lah, kalo ngga ada pengaruhnya baru kita pakai cara yang “agak kasar”, tutur Pendi (13/11).

Menjelang berakhirnya rangkaian Save Soedirman, harapan terpenuhinya tuntutan-tuntutan mengenai UKT dapat direalisasikan. “Harapan saya tuntutannya bener bisa terelalisasi mengenai penurunan nominal UKT,” harap Pendi sekaligus mengakhiri. (Jovita/Rangga/Siwi)

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di situs persma-agrica.com

 
Top