0
Kuharap kau ingat pertama kali kita bertemu.

Angin tak berhembus. Gelap pekat menaungiku. Suasana hatiku buruk. Goresan pensilku tak menciptakan apapun selain mimpi buruk.

Lemah, aku hanya terduduk. Meratapi kertas-kertas yang berserakan pilu. Putih di tengah hitam. Hatiku sekosong selongsong peluru.

Sungguh, kuharap kau ingat pertama kali kita bertemu.

Pecahan cermin yang hancur berkeping-keping. Berkilauan seperti mengolok-olok. Goresan-goresan merah di atas kulitku. Rambutku terurai, sepenuh hati membenci pemiliknya.

Boneka hantu di atas kertasku tak tersenyum, hanya menatap hampa. Padahal penciptanya justru lebih kopong. Mencengkeram bagian dingin tubuhnya di mana ia kehilangan hatinya.

Lalu senyum hangatmu yang merebak bagai racun.

Aku selalu mengingat pertama kali kita bertemu.

Piano dan biola mengalun lemah seiring langkahmu. Rentangan lenganmu hangat, seperti rumah. Aku menggertakkan gigiku, takut dan remuk.

Namun kau menelengkan kepalamu, lembut bertanya, “Ke mana perginya senyummu?”

Aku belum bertemu dengan huruf dan kata-kata saat itu. Kertasku penuh dengan keputusasaan. Menetes-netes bagai dosa. Terseret-seret oleh ombak.

Hari kesekian, kupotong rambutku. Kubuang ke hutan terdalam. Senyap merasuk dalam rongga dada. Dan aku jatuh terjerembab ke dalam jurang ketidakpercayaan.

Kumohon, ingatlah pertama kali kita bertemu.

Kau mengulurkan tanganmu pada diriku yang hina dan sekarat. Meminjamkan hatimu. Menyebarkan hangat dalam beku. Lalu menangis menggantikanku.

Kumohon, ingatlah.

Kau tersenyum menuntunku. Goresanku berubah menjadi mimpi. Dan pecahan kaca yang berceceran ternyata hanya pelangi. Gelap tidaklah pekat, kunang-kunang menari dengan senang hati.

Kumohon, ingatlah.

Aku gadis sekarat yang dilahap gelap. Terjebak dalam palung terdalam. Dan kau menemukanku.

Menemukanku.

****

Terkadang saya berharap dia akan sesekali membuka catatan-catatan kecil saya untuknya, seperti yang saya tulis saat ini, di sini. Dan saya tahu, saat itu pastilah dia akan tersenyum, lalu tanpa kata menatap saya dengan rasa teduh. Dia takkan memeluk saya, tapi udara di sekitar kami akan berpelukan selama yang diperlukan.

Lalu, pelan dia akan berkata, “Aku benar-benar bangga akan dirimu.”

****

By : Azizah Al Rasyid

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di situs persma-agrica.com

 
Top