0
Menulis adalah suatu keharusan. Kini tidak hanya menulis laporan dan jawaban saat ujian. Mahasiswa jenjang S1 punya kewajiban baru, menulis jurnal ilmiah. Berdasarkan Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012, tentang ketentuan publikasi untuk program S1/S2/S3 yang merupakan salah satu syarat kelulusan, yang berlaku terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012.

Setiap mahasiswa diwajibkan untuk menyerahan artikel ilmiah dalam bentuk jurnal online. Jurnal onlline tersebut jurnal hasil penelitian mahasiswa yang dipublikasikan di dunia maya. Aribawa, staff Bagian Pendidikan Pusat Administrasi, menjelaskan Jurnal online memiliki format yang sama dengan resume skripsi. Hanya saja jumlah halamannya dibatasi hingga 10 halaman.

Tujuannya, untuk mengetahui tingkat publikasi dari suatu Universitas didasarkan pada lulusan Strata I. Saat ini jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh. Selain itu, Ahadiyat Yugi Rahayu, S.P., M.Si., D. Tech. Sc, Ketua Jurnal Agrins Faperta  menambahkan kewajiban tersebut bertujuan untuk menghindari adanya plagiatisme. “Mahasiswa yang mencontek  jurnal milik orang lain akan terpantau oleh Dikti,” tegasnya (20/11).

Aribawa menegaskan bahwa jurnal online ini menjadi syarat untuk mengikuti yudisium. “Bagi calon lulusan yang tidak mengunggah jurnal ilmiah, maka tidak bisa mengikuti yudisium” ungkapnya.

Sistem online juga dimaksudkan untuk mempermudah pengarsipan tugas akhir mahasiswa. Pemanfaatan perkembangan teknologi dapat sejalan dengan minimalisasi penggunaan kertas. Seperti yang diungkapkan Karseno, SP., MP, Ph.D, dirinya menilai jurnal online merupakan langkah awal untuk mengatasi arsip skripsi yang begitu membludak. “Perpustakaan kita tidak akan dapat menampung beribu-ribu skripsi dalam bentuk hard copy hingga tahun-tahun berikutnya,” tegasnya.

Menurut Yugi, setiap program studi di masing-masing fakultas memiliki koordinator yang mengelola jurnal online. Namun secara teknis, artikel tersebut akan masuk ke Bagian Pendidikan (Bapendik) masing-masing fakultas. Jurnal yang telah  diunggah oleh mahasiswa ke dalam Sistem Informasi Akademik (SIA) akan dikelola oleh Bapendik dengan format file .pdf. Kemudian diserahkan pada pengelola jurnal masing-masing Prodi, dan akan bermuara pada publikasi jurnal ilmiah tersebut.

Hal ini senada dengan yang diungkapkan Aribawa, “Pertama mahasiswa mengupload jurnal lewat SIA dengan memilih link artikel ilmiah,” jelasnya (20/11). Lebih lanjut, jurnal ilmiah yang telah diunggah kemudian dicetak oleh mahasiswa dan diserahkan ke Bapendik sebagai bukti autentik telah mengunggah, sehingga dapat ditindaklanjuti untuk melakukan yudisium.



Publikasi Jurnal

Publikasi jurnal ilmiah mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman ada di bawah naungan Universitas. Namun, pengelolaannya mutlak diserahkan kepada pihak Fakultas. Di Fakultas Pertanian,  jurnal-jurnal ilmiah tersebut dikelola oleh pengelola jurnal masing-masing Program Studi (prodi). Sementara di Universitas sudah disediakan situs dengan alamat joss.unsoed.ac.id dan jos.unsoed.ac.id. JOSS (Jurnal Online Skripsi Soedirman) untuk jurnal ilmiah karya mahasiswa, sedangkan JOS (Jurnal Online Soedirman) untuk jurnal karya dosen. “Kami sudah menyediakan wadah untuk jurnal karya mahasiswa” tutur Rian, staf Pusat Komunikasi (20/11). Pengelolaan website ini ada di bawah wewenang Pembantu Rektor I dan dikelola oleh Puskom. Kedua laman ini juga dapat diakses lewat website UPT Perpustakaan Pusat.

Menurut Pasca, mahasiswa calon lulusan Desember, dirinya tidak merasa terbebani dengan adanya kebijakan ini, ”Gampang kok, saya juga sudah menguploadnya,” tuturnya. Namun ada juga beberapa mahasiswa yang berkeluh kesah dengan adanya kebijakan tersebut.

Padahal  menurut Yugi, aturan tersebut dapat dijadikan sebagai wadah publikasi hasil-hasil penelitian mahasiswa UNSOED. “Penelitian mahasiswa kita juga bagus-bagus, nggak kalah kok sama Universitas lainnya,” tegasnya.

Untuk mengatasi keluhan mahasiswa mengenai kebijakan Dikti ini, pihak universitas telah melakukan beberapa sosialisi ke tiap fakultas. Pelatihan dan penyebaran pamflet mengenai panduan pembuatan dan pengunggahan jurnal online adalah sala satu cara yang telah dilakukan. “Kita sudah mengadakan pelatihan kepada mahasiswa yang akan lulus,” ungkap Rian, staff PUSKOM.

Selain itu, dosen pembimbing ikut berperan membimbing mahasiswa dalam pembuatan jurnal online, ”Dosen pembimbing tidak hanya membimbing dalam skripsi, tetapi juga ikut mengarahkan mahasiswa dalam membuat jurnal, sehingga mahasiswa dapat membuat jurnal online dengan benar,” ungkap Aribawa. (Aprilia/Aaf/Intan).

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di situs persma-agrica.com

 
Top