0
Siang tadi aku bermimpi tentang masa depan.

Aku tengah berjalan menyusuri pasir putih di tepian danau berkilau,
bening dan hening, aku menunggu-nunggu angin menerpa bersama para sukma.

Kupungut segenggam-dua genggam mimpi utuh yang runtuh dalam setiap butiran pasir, kecewa dihempas ombak yang menjinak. Hatiku pilu dan lidahku kelu, kau berdiri di seberang takdir yang sudah berakhir.

Aku tak bertanya mengapa kau di sana. Gembira buncah merekah. Hatiku yang dulunya milikmu, beku oleh waktu, kembali menyatu menyambut kehadiranmu.

*

Kau dan aku berjalan bersisian dengan impian. Semburat sore melekat erat, ungu terbelenggu oleh sendu yang kau senandungkan.

Kupetik satu-dua buah ranum di pohon tepi danau, kuserahkan padamu rasa cintaku, yang kausambut lembut. Dunia tengah berbaik hati pada kita yang tengah jatuh hati.

Satu gigit, satu gigil. “Ah, sudah hampir malam,” kau berujar, “ayo masuk ke dalam.”

*

“Aku memimpikanmu semalam,” kataku parau dan sengau. Kakiku berayun, gugup dalam setiap degup, sementara kau menenggelamkanku dalam senyum dikulum.

Kau mengurai rambutku yang kini panjang, menghirup semerbak, memilinnya dalam sebuah untai menjadi sebuah rantai. “Ceritakanlah padaku,” balasmu.

“Kita bertemu di bawah temaram muram bulan, kau tersenyum, mengingatkanku tentang hukum. Aku takut–”

“Tapi kau tak perlu terlarut,” potongmu. Kutatap diriku yang baru pada cermin di hadapanku. “Kau sungguh cantik.”

Kau memang pembawa tawa. Suaraku redam terdiam, pelukmu hangat seperti perapian. “Aku akan merindukan aromamu.” Dalam hatimu kudengar sabda: Aku pun begitu.

*

Aku ingin tertawa lebih lama. Kau tersenyum, aku menangis. Aku bagai mengais-ngais, mencari detum jantungmu, seandainya pun ia berdetak untukku.

Kuserahkan padamu. Bawalah yang jauh dalam peluk muluk.

*

Di bawah bulan yang muram, kita akan bertemu. “Aku memimpikanmu semalam.” Dan aku akan menangis.

****

by : Azizah Al Rasyid

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di situs persma-agrica.com

 
Top