0
Cakrawala begitu luas dan indah, entah seperti apa di bagian bumi yang lain, satu hal yang pasti sore selalu diam-diam menghilang terganti dengan malam. Bayangan senja terpancar dari gelas berisi teh peach yang sudah mulai dingin.
“Aku tahu Ibu.” Gadis itu  menjawab pelan namun pasti.
                                                                         ***
Pikirkan apa yang seharusnya dipikirkan, lakukan apa yang seharusnya dilakukan. Itulah kata-kata saktiku akhir-akhir ini.
“Zeta Azzahra.” Suara sopran pegawai administrasi itu mengagetkan pikiranku. Aku pun berdiri dan beranjak menuju panggilan itu.
“Ya, saya Zeta Azzahra.” Sahutku antusias.
“Tolong anda lengkapi berkas yang ada di map ini, lalu kesini lagi hari Senin.” Ujar pegawai itu mengingatkan.
“Baik, terima kasih banyak.” Saat keluar kantor itu, aku merasa  musim semi datang begitu cepat. Ada garis lengkung terukir di wajahku. Subhanallah. Terima kasih Tuhan.
Suara gamelan dipadu dengan alat musik klasik sayup terdengar dari kejauhan dan semakin jelas. Seorang tua tersenyum padaku sementara tangannya memainkan kecapi dengan alunan yang halus dan indah. Teringat olehku suasana yang dulu aku rasa, tapi ya  itu dulu.
“Kakek, apa kabar?”tanyaku sambil mencium tangannya.
“Baik nak, bagaimana kabar ibu mu itu?”Tanya kakek terlihat penasaran.
“Ibu baik-baik saja kek, tapi ya kakek tahu sendiri Ibu kadang meledak seperti ditahan bom waktu.” Ujarku lirih tampak seperti anak kecil yang mengadu.
“Biarlah dia menemukan jalannya anakku.” Hanya itu yang kakek ucapkan. Butuh waktu buatku tuk mencerna kata-kata nya.

***
Kadang otak tak sejalan dengan hati, otak dengan logikanya dan hati dengan chemistrynya. Malam itu aku sujud lama sekali, lebih lama dari sebelumnya. Seolah-olah semua terpusat pada satu, segala keluh kesah masalah seolah di telan bumi,yang ada perasaan  tenang dan harapan akan masa datang yang lebih baik. Efek “black hole” menenangkan pikirku. Tanpa aku tahu seseorang mengintip dibalik pintu kamarku yang sedikit terbuka dengan tatapan haru.
***
Saat pulang bekerja paruh waktu di restoran cepat saji, kakek menelponku supaya cepat pergi kerumah kakek ada hal yang sangat penting ujarnya. Saat tiba disana ekspresi kakek tak dapat ditebak, hanya sepucuk surat yang terulur dari tangannya. Kuraih dan coba kubaca walaupun sedikit deg-degan. Keberuntungan sedang berpihak padaku, atas izin Tuhan dan kerja keras akhirnya terjawab sudah penantian itu. Tak kuasa aku menangis, kupeluk kakek sampai susah rasanya sekali bernapas, aku cuma nyengir melihatnya. Zeta Azzahra dan Universitas Ankara Turki. Itu cukup.
***
Saat pulang ke rumah Ibu tampak sudah menunggu dengan lauk pauk yang sudah penuh di meja makan.
“Hari ini pulang cepat nak?Ibu sudah menunggu,ibu masak buat Zeta,makanan kesukaan ibu sama kamu,super komplit.” Ibu berkata riang seperti sebagian bebannya sudah hilang. Namun menurutku ada yang aneh.
“Iya bu, Zeta juga udah laper, ayo kita mulai makan.”ujarku jujur.
“Ibu tau Zeta.”ujar ibutiba-tiba.
“maksud Ibu bagaimana?.” Ujarku menanggapi pernyataan Ibu. Ibu langsung memelukku erat, isak tangis mengiringi dekapan ibu. Rupanya ibu tahu, ibu tahu,ibu ku sayang bahkan tahu sendiri bukan dari ku.
“maafin Zeta bu, “ aku menangis malam itu dan kami terdiam dengan pikiran masing-masing, setiap orang punya jalan hidup yang tak tertuga.
***
Bila kisah itu terulang dua kali, mungkin saja kisahku sama seperti ibu dan ayah.
Hari senin tiba, semua orang telah berkumpul saling berbincang, ruangan jadi seperti sengatan tawon, entah berapa desibel, tak bisa kuhitung.
“Kalau cita-cita hanya setinggi langit, gerakmu hanya sebatas itu. Kamu tahu, sesungguhnya aku hanya seorang beruntung. Beruntung saat kesempatan bertemu kesiapan. Begitu pun saat ini, senang berjumpa denganmu Zeta Azzahra, kamu udah belajar keras,” suara tenor itu mengagetkan ku yang sedang duduk memperhatikan podium. Seorang pria tak ku kenal berkacamata dan wajahnya menyiratkan keantusiasan. Kesimpulannya aku bingung.
“emm, ya, terima kasih”, aku hanya menganggukan kepala dan tersenyum bingung siapa kah dia. Aku tak tahu dan tak mahu tahu.
“apa yang akan kamu tampilkan nanti saat tiba disana?” ujar pria itu lagi.
“aku gak tahu, masih bingung”, jawabku singkat.
‘sepertinya aku tahu, karena kamu seperti ibu dan ayahmu”, pria itu berkata tenang dan dalam. Jiwaku terusik, tapi tak kan ku biarkan diriku reaktif terhadap hal-hal kecil. Diam lebih baik.
Keberangkatan sudah dijadwalkan satu minggu lagi dan disana kami akan tinggal di asrama. Masih ada tes lagi, tapi tak apa demi misi dan mimpi ini. Ibu dan Kakek sangat sibik menyiapkan bekal dan keperluanku. Aku merasa kembali seperti  saat pertama kali masuk sekolah dulu. Mereka selalu punya cara nya sendiri. Aku bahagia, tapi pasti ayah lebih bahagia.Tak lupa kakek membawakan alat music tradisional kesayangannya untukku.
***
Aku pamit pada ibu, kakek, dan teman-temanku. Mereka semua super bagiku,harta karun berharga dihidup ku. Pagi itu di Bandara tangis ku banjir begitu saja, gak tahu apalagi ekspresi yang lebih tepat. Aku cium tangan semuanya sekaligus memohon doa restu. Sebenarnya belajar di Indonesia tak ada bedanya, aku pun ingin sekali, aku bisa lebih dekat  dengan mereka. Tapi aku mengemban “misi” lain yang sangat  penting selain haus akan oasis ilmu serta mimpi yang harus ku raih. Aku,kamu,mereka seperti tuts tuts piano, hitam dan putih saling melengkapi, dimainkan dengan tangan Tuhan.
“Pertama kalinya naik  pesawat, semoga baik-baik saja ya Tuhan”, belum sempat  doaku selesai, disampingku hadir pria itu lagi.
“ibuuu... “,aku mengalami Jet Lag hebat. Ak tak tahu harus bagaimana.
Pertemuan dua budaya Eropa dan Asia yang masih tersisa dan terjaga di kota ini, membawa getaran musim semi yang luar biasa.Ayah,Zeta ingin bertemu. Semua nya akan kembali le titik nol. Kisah ku akan kah sama seperti kisah Ayah dan Ibu? 
ben türkiye aşk(turki aku jatuh cinta) 
                                                                                        Oleh : Putri Tresna (Agrica 2010)

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di situs persma-agrica.com

 
Top