0
Kalau saja Bung Hatta masih hidup sampai sekarang. Founding  father kita itu, tinggal membuka catatan pemikirannya yang pernah dituliskan tentang kerakyatan dan kemanusiaan. Beliau cukup menjelaskan apa yang pernah dituliskan beberapa tahun lalu untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini.

Dalam budaya pertanian, kita kenal lembaga lokal yang  dilakukan turun-menurun dan berhasil melahirkan interaksi sosial antar masyarakat yang lebih manusiawi. Ada Subak di Bali, sebuah gambaran lengkap tentang interaksi positif antara norma, agama, dan kebutuhan masyarakat.

Dalam tradisi Jawa ada Jimpiitan, di Sunda ada kapunduhan, atau di Papua ada otini-tabenak. Jimpitan misalnya, sebuah tradisi pemungutan hasil panen berupa beras  oleh warga, kemudian hasil dari kumpulan itu akan diberikan bagi yang warga yang tidak mampu. Namun semakin lama, tradisi itu mulai hilang menjadi distorsi makna dengan pengumpulan uang.

Tak dipungkiri, jaman telah berubah, pertanian kian komersial, membuat pola pikir petani berubah. Pemerintah memaksa petani menaikkan produktivitas hasil pertanian. Alih –alih untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, malahan petani dipaksa untuk menanggapi kebutuhan negara lain di pasar global.

Masalah kenaikan harga tidak terkendali belakangan ini. Alasan paling klasik adalah karena komoditas tidak mampu memenuhi permintaan  rakyat suatu negara. Layaknya kita curiga, jangan – jangan pemerintah enggan memetik dari hasil panen sendiri karena terlanjur terikat etika dagang globalisasi. Adanya beras impor, kedelai impor, kunyit impor adalah bukti sebuah bangsa tidak berdaya menghadapi ketergantungan dari negara lain.

Sejarah pertanian adalah bagian dari sejarah kebudayaan manusia. Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri. Dahulu pertanian merupakan sebuah bentuk syukur dari alam karena kebutuhan hidup seseorang yang menjelma jadi ritual syukur adat, misalnya perayaan Sedekah Bumi, warga berbondong-bondong untuk merayakannya upacara-upacara adat tersebut.

Lain dulu lain sekarang. Petani cenderung berpikir untuk lebih menguntungkan diri sendiri daripada bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maka, segala macam cara dilakukan, misalnya mereka ramai - ramai mendongkrak paksa hasil produksi tanaman yang dapat merusak tanah dan alam.  Yaitu pengunaan pupuk dan pestisida sintetik yang terang – terangan.

Seiring dengan itu, esensi makna dari bertani tadi pun perlahan hilang. Interaksi sosial antar masyarakat yang dibentuk dari tradisi turun menurun pun lenyap. Karena petani mulai berpikir menghasilkan uang dengan menjual hasil panennya. Tidak lagi memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil panennya sendiri. Modernitas membawa pola pikir yang maju. Pertanian dipaksa untuk memenuhi kebutuhan seluruh rakyat.

Maka genaplah yg dikatakan Maula Paramitha, mahasiswa UGM, dalam esai tentang runtuhnya esensi bertani dalam memelihara Keindonesiaan kita.  Esensi dari bertani pun perlahan hilang. Pertanian tidak lagi untuk mencukupi kebutuhan hidup.  

Tentu kita masih ingat tentang ketakutan mengenai hukum Malthus bahwa  peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung dan pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur. Akibatnya, pada suatu saat nanti, manusia akan mengalami ancaman kelaparan. Benarkah ?

Namun tentu kita juga ingat ucapan bijak Mahatma Gandhi: “Bumi ini sebenarnya cukup bahkan berlebih untuk memberi makan semua penduduk bumi. Namun menjadi tak cukup memberi makan satu orang yang rakus.”


Maka Bung Hatta benar, yang dibutuhkan masyarakat Indonesia adalah gotong royong. Bung Hatta menginginkan rakyat yang didasarkan atas nilai – nilai kekeluargaan yang sudah menjadi ciri masyarakat pedesaan pada umumnya. Pemikiran Bung Hatta cukup relevan untuk saat ini, yaitu memaknai pertanian sebagai sebuah tradisi gotong – royong masyarakat.

Oleh : *Anggota LPM Agrica 2008/ Mahasiswa Agroteknologi 2008
             (Standy Christianto)

Posting Komentar

Silahkan berkomentar di situs persma-agrica.com

 
Top